— Gia
Iya, ini juga hal yang nggak pernah ada di benak gue sebelumnya. Gue nggak pernah merencanakan untuk kesini. Ke tempat yang mungkin awalnya gue cuma tahu namanya doang.
Praha.
Sama seperti Oslo dulu — gue beli tiketnya di jam dua belas malam, dalam kondisi yang nggak bisa disebut sepenuhnya rasional, dengan alasan yang kalau gue ceritakan ke Arin dia pasti akan menjitak kepala gue sambil menjambak dan bilang "GIA. KOK LO BISA-BISANYA SIH?" dengan nada yang mengandung semua emosi sekaligus.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini gue tidak lari dari seseorang.
Kali ini gue lari dari perasaan gue sendiri. Yang ternyata, setelah satu tahun lebih mencoba mengubur, mencoba mengalihkan, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa "sama-sama bahagia" bisa berarti gue dan Radyta bahagia dengan hidup kita masing-masing — ternyata masih ada di sana. Di tempat yang sama. Nggak pindah.
Gue pikir Praha cukup jauh untuk itu.
Gue salah.
Karena gue terus membawa beban itu. Beban yang nggak mau gue hadapi.
Empat hari pertama di Praha gue habiskan dengan berjalan.
Bukan jalan yang punya tujuan.. tapi perjalanan yang asal keluar dari penginapan, asal kaki bergerak, asal kepala gue nggak punya kesempatan untuk diam terlalu lama dengan pikirannya sendiri.
Gue menyusuri Old Town Square sampai hafal setiap sudutnya. Gue naik ke Petřín Hill meski paru-paru gue protes di separuh jalan. Gue nyasar dua kali di labirin jalan-jalan sempit di Malá Strana dan hampir tersandung cobblestone Praha yang nggak rata sebanyak tiga kali. Kkota ini indah tapi tidak ramah untuk orang yang ceroboh, yang nggak pernah memperhatikan langkahnya sendiri.
Juga, orang yang tidak punya tujuan, seperti gue.
Setiap malam gue kembali ke penginapan dengan kaki pegal dan kepala yang masih sama penuhnya dengan waktu gue berangkat pagi. Gue membuka buku gambar, gue letakkan pensil di atas kertas dan kertas itu tetap kosong. Gue menatap langit-langit penginapan yang asing sampai mata gue akhirnya menyerah.
Ngapain gue buang uang sebanyak ini.
Gue emang tolol.
Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat. Sama.